Pernahkah kamu merasa ingin mengundurkan diri dari pekerjaan yang lingkungannya sudah terasa sangat beracun atau toxic, tapi kemudian terdiam saat melihat saldo rekening? Muncul celetukan spontan di kepala: “Resign karena lingkungan kerja toxic? In this economy? Gapapa mental yang sakit daripada dompet yang sekarat.” Kalimat ini mungkin terdengar seperti gurauan di sela-sela jam istirahat kantor, namun jika kita bedah lebih dalam, ada rasa perih yang nyata di balik setiap tawa yang dihasilkan.
Istilah “In this economy” kini bukan sekadar tren bahasa anak Jakarta Selatan yang gemerlap. Frasa ini telah bertransformasi menjadi alat coping kolektif atau mekanisme pertahanan diri bagi banyak orang di Indonesia. Kita menggunakan humor satir untuk menertawakan ketidakmampuan kita dalam menjangkau hal-hal yang dulunya dianggap sebagai standar hidup normal kelas menengah, seperti mengambil KPR atau sekadar merencanakan pernikahan tanpa harus pusing tujuh keliling memikirkan cicilan.
Vibecession: Ketika Data Ekonomi Bagus, Tapi Hati Tetap Muram
Mungkin kamu sering mendengar berita di televisi atau media sosial bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap stabil di angka 5 persen. Secara teknis, angka tersebut terlihat sangat positif. Namun, mengapa di warung kopi atau di linimasa Twitter (X), suasananya justru terasa seperti sedang krisis? Fenomena inilah yang disebut sebagai Vibecession.
Istilah yang dipopulerkan oleh penulis ekonomi Heru Margianto ini menggambarkan kondisi di mana fundamental ekonomi secara statistik terlihat baik, namun “getaran” atau vibes yang dirasakan masyarakat justru sebaliknya. Ada decoupling atau terputusnya hubungan antara angka di atas kertas dengan kesejahteraan yang dirasakan di meja makan. Kamu merasa harga beras makin mahal, cicilan rumah makin mencekik, dan mencari pekerjaan baru rasanya seperti mencari jarum di tumpukan jerami, meskipun pemerintah bilang ekonomi kita sedang tumbuh pesat.
Mengapa Satir Menjadi Pilihan Utama Masyarakat?
Satir muncul sebagai respons alami ketika seseorang merasa tidak berdaya menghadapi sistem yang besar. Berikut adalah beberapa alasan mengapa frasa “In this economy” begitu populer:
- Subversi Kultural: Menertawakan nasib adalah cara paling aman untuk mengkritik kebijakan tanpa harus berhadapan langsung dengan risiko hukum atau konfrontasi terbuka.
- Solidaritas Nasib: Saat kamu mengunggah meme tentang susahnya beli rumah, dan ribuan orang menyukainya, ada rasa lega bahwa kamu tidak sendirian dalam perjuangan ini.
- Katarsis Emosional: Melepaskan ketegangan finansial melalui humor hitam membantu menjaga kesehatan mental agar tidak benar-benar meledak karena stres.
Analisis Data: Dari Kemarahan Menuju Sinisme yang Mengakar
Jika kita melihat data riil dari Google Trends sepanjang tahun terakhir, terdapat pola yang sangat menarik mengenai psikologi sosial masyarakat digital kita. Ada tiga frasa kunci yang sering muncul secara bergantian: “In this economy”, “Indonesia gelap”, dan “Kabur aja dulu”.
Grafik pencarian menunjukkan bahwa lonjakan pesimisme ini biasanya terjadi di momen-momen krusial, seperti pasca-Lebaran atau saat memasuki periode pendaftaran sekolah (April hingga Agustus). Di saat itulah pengeluaran rumah tangga membengkak dan orang tua mulai menyadari betapa jauhnya jarak antara pendapatan mereka dengan biaya hidup yang terus melonjak.
Menariknya, setelah pertengahan tahun 2026, tren narasi konfrontatif (seperti #IndonesiaGelap) mulai menurun, namun tren satir (“In this economy”) justru melesat tajam. Ini menandakan bahwa publik mulai lelah marah-marah. Mereka lebih memilih untuk mendomestikasi perlawanan tersebut menjadi ironi sehari-hari. Sinisme ini telah mengendap dan menjadi kesadaran kolektif yang kuat di masyarakat kita.
Tiga Monolog dalam Ruang Publik yang Saling Mengabaikan
Salah satu alasan mengapa keresahan ini tidak kunjung usai adalah karena ruang publik kita saat ini terpecah menjadi tiga monolog besar yang tidak pernah saling bertemu. Masing-masing kubu hidup dalam dunianya sendiri, menggunakan bahasa yang berbeda, dan memiliki prioritas yang bertolak belakang.
| Kategori Monolog | Pelaku Utama | Logika yang Digunakan | Fokus Utama |
|---|---|---|---|
| Teknokratis | Pemerintah | Statistik Agregat | Pertumbuhan GDP, Inflasi Makro, Infrastruktur |
| Domestik | Masyarakat Awam | Logika Dompet | Harga Beras, Biaya Sekolah, Lapangan Kerja |
| Ideologis | Aktivis/Mahasiswa | Struktural | Demokrasi, Konstitusi, Isu Oligarki |
Pemerintah seringkali berbicara kepada rakyat menggunakan angka-angka makro yang dingin, seolah-olah angka itu otomatis berarti kesejahteraan bagi semua orang. Di sisi lain, masyarakat hanya peduli apakah gaji mereka cukup untuk makan sampai akhir bulan. Sementara itu, kelompok aktivis berbicara tentang rusaknya sistem demokrasi. Ketiganya berjalan di rel masing-masing tanpa ada jembatan komunikasi yang efektif. Akibatnya, muncul apa yang disebut sosiolog Jean Baudrillard sebagai simulasi realitas, di mana setiap kelompok merasa paling benar dengan data versinya sendiri.
Satir Sebagai “Infrapolitics”: Senjata Rahasia Kelompok Lemah
Antropolog James C. Scott memiliki teori menarik tentang hal ini yang disebut sebagai infrapolitics. Menurutnya, kelompok yang tidak memiliki akses ke kekuasaan akan menciptakan “teks tersembunyi” (hidden transcript) untuk melawan otoritas. Satir, humor hitam, dan tagar sinis di media sosial bukanlah bentuk sikap apatis atau menyerah.
Sebaliknya, itu adalah senjata paling rasional untuk mendelegitimasi otoritas moral pemerintah di tingkat akar rumput. Masyarakat tahu mereka mungkin akan kalah jika berdebat menggunakan data statistik yang rumit, maka mereka membalasnya dengan subversi kultural. Ketika seseorang berkata, “In this economy masih main padel?”, ia sebenarnya sedang menyindir kesenjangan ekonomi yang makin lebar dengan cara yang sangat halus namun menohok.
“Satir adalah cara publik untuk mengatakan bahwa mereka tidak lagi percaya pada narasi resmi, tanpa harus turun ke jalan untuk berteriak.”
Jebakan “News Avoidance” dan Peran Media
Kondisi ini diperparah dengan fenomena News Avoidance. Banyak dari kita, terutama Gen Z dan milenial, mulai sengaja menghindari berita arus utama. Alasannya sederhana: berita-berita tersebut terasa tidak relevan dengan realita hidup dan justru merusak kesehatan mental. Media seringkali terjebak menjadi corong monolog pemerintah atau sekadar mengejar klik, alih-alih menjadi jembatan yang menjernihkan suasana.
Jika media terus gagal mengemas data makroekonomi menjadi narasi yang membumi dan solutif, maka jurang pemisah antara pemerintah dan rakyat akan semakin dalam. Kita butuh media yang berani menguji klaim statistik dengan realita di lapangan, bukan sekadar mengulang-ulang siaran pers yang kering.
Langkah Nyata: Mengubah Getir Menjadi Kolaborasi
Kita tidak bisa terus-menerus menjalani kehidupan bernegara dengan saling mengabaikan. Menepis kecemasan publik dengan tameng angka statistik hanya akan menambah tumpukan jerami yang siap terbakar kapan saja. Lalu, apa yang bisa kita lakukan?
- Untuk Kita (Publik): Tetaplah kritis namun jangan terjebak dalam apatisme total. Gunakan satir sebagai alat untuk tetap sadar, namun mulailah membangun komunitas-komunitas kecil yang saling mendukung secara ekonomi (seperti koperasi atau jaring pengaman sosial komunitas).
- Untuk Pemerintah: Tinggalkan gaya komunikasi satu arah yang kaku. Terjemahkan angka pertumbuhan menjadi kebijakan nyata yang menguatkan daya beli, seperti stabilisasi harga pangan dan penciptaan lapangan kerja berkualitas.
- Untuk Media: Ambillah peran sebagai pengemban amanat hati nurani rakyat. Jadilah wadah di mana idealisme mahasiswa, kecemasan warga, dan solusi pemerintah bisa bertemu dalam satu diskusi yang sehat.
Pada akhirnya, ekonomi yang tumbuh seharusnya tidak hanya terasa manis di atas kertas, tapi juga terasa nyata di dalam dompet dan piring makan setiap warga. Jalan keluarnya bukanlah konfrontasi yang menguras energi, melainkan komunikasi yang emansipatoris—di mana pemerintah mau mendengar dengan empati, dan publik dilibatkan sebagai mitra aktif, bukan sekadar objek statistik.
Mari kita ubah energi satir yang getir ini menjadi kekuatan kolaborasi untuk memastikan bahwa ekonomi Indonesia benar-benar tumbuh untuk semua, bukan hanya untuk segelintir orang yang masih bisa liburan ke Jepang di saat yang lain bingung membayar kontrakan.