Pernah nggak sih kamu ngerasa cuaca lagi panas-panasnya, terus tiba-tiba ada bau sangit menyengat yang nggak hilang-hilang padahal nggak ada tetangga yang lagi bakar sampah? Kalau kamu tinggal di Sumatra atau Kalimantan, bau itu seringkali jadi sinyal awal kalau ‘musim asap’ sudah datang. Kabar buruknya, tahun 2026 ini kita nggak cuma berhadapan dengan musim kemarau biasa. Ada tamu tak diundang bernama Super El Nino yang diprediksi bakal bikin kondisi jauh lebih menantang dari tahun-tahun sebelumnya.
Lembaga pemikir asal Singapura, Singapore Institute of International Affairs (SIIA), baru saja merilis laporan yang cukup bikin dahi berkerut. Mereka menaikkan status risiko kabut asap di Asia Tenggara ke level ‘High’ atau Tinggi. Ini bukan main-main, karena ini pertama kalinya status bahaya ini mencapai titik puncak sejak tahun 2023. Artinya, peluang langit kita berubah jadi abu-abu (atau bahkan oranye) karena kebakaran hutan sangatlah besar.
Kenapa Status ‘High Risk’ dari SIIA Ini Bukan Isapan Jempol Semata
Mungkin kamu mikir, “Ah, paling cuma ramalan cuaca biasa.” Tapi tunggu dulu. SIIA nggak sembarangan kasih label. Mereka melihat kombinasi maut antara suhu panas ekstrem dan kekeringan yang meluas. Super El Nino itu ibarat mematikan keran hujan di wilayah kita dalam waktu yang lama, sementara suhu udara terus dipompa naik. Hasilnya? Lahan-lahan kita, terutama lahan gambut yang luas, jadi kering kerontang dan sangat mudah terbakar.
Laporan yang dirilis pada 24 Juni 2026 kemarin menegaskan bahwa wilayah regional kita sedang masuk dalam zona bahaya. Ketika tanah sudah kehilangan kelembapannya secara total, percikan api kecil saja—entah itu dari puntung rokok atau pembukaan lahan yang ceroboh—bisa berubah jadi kebakaran hebat yang sulit dipadamkan. Dan karena ini fenomena regional, asapnya nggak bakal diam di tempat. Dia bakal jalan-jalan menyeberangi perbatasan negara, yang biasa kita kenal dengan istilah transboundary haze.
Super El Nino: Saat Alam Sedang ‘Geregetan’ dan Tanah Jadi Gampang Terbakar
Sebenarnya apa sih bedanya El Nino biasa sama yang pakai embel-embel ‘Super’? Secara sederhana, El Nino adalah fenomena pemanasan suhu muka laut di Samudera Pasifik yang dampaknya sampai ke kita berupa berkurangnya curah hujan. Nah, kalau ‘Super’, intensitas pemanasannya jauh lebih kuat dan durasinya bisa lebih panjang.
Apa Bedanya El Nino Biasa dengan Super El Nino?
- Intensitas Kekeringan: Di El Nino biasa, mungkin hujan masih turun sesekali. Di level Super, kamu bisa nggak melihat hujan berbulan-bulan sampai sumur-sumur warga mulai kering.
- Suhu Udara: Panasnya nggak cuma bikin gerah, tapi bisa mencapai titik ekstrem yang bikin vegetasi di hutan mati dan jadi bahan bakar alami yang sempurna bagi api.
- Dampak pada Lahan Gambut: Ini yang paling ngeri. Lahan gambut itu kayak spons. Kalau sponsnya kering total, dia bisa terbakar sampai ke bawah tanah. Apinya nggak kelihatan, tapi asapnya keluar terus-terusan.
Fenomena ini bikin tim pemadam kebakaran kita bakal kerja ekstra keras. Kebakaran di lahan gambut itu sering disebut zombie fire. Kamu pikir apinya sudah mati karena di permukaan sudah nggak ada api, tapi ternyata di kedalaman dua meter, bara apinya masih menyala dan pelan-pelan merambat ke area lain.
Daftar Negara yang Paling Terancam (Spoiler: Indonesia Ada di Barisan Depan)
Berdasarkan identifikasi SIIA, ada empat negara utama yang masuk dalam radar zona bahaya tinggi. Nggak heran kalau Indonesia masuk di dalamnya, mengingat kita punya cadangan lahan gambut yang sangat luas di Sumatra, Kalimantan, dan Papua. Berikut adalah daftar negara yang harus siaga satu:
- Indonesia: Sebagai ‘rumah’ utama dari titik panas (hotspot) karena luasnya wilayah hutan dan perkebunan.
- Singapura: Meski nggak punya hutan luas untuk terbakar, Singapura adalah penerima ‘ekspor’ asap paling setia kalau angin berhembus ke arah utara.
- Malaysia: Sama seperti Singapura, wilayah semenanjung maupun bagian Borneo (Sarawak dan Sabah) sangat rentan terpapar asap kiriman maupun kebakaran lokal.
- Brunei Darussalam: Negara kecil ini juga nggak luput dari risiko karena letak geografisnya yang dikelilingi wilayah yang rawan terbakar.
Pola pergerakan angin pada bulan-bulan kritis biasanya akan membawa asap dari arah selatan ke utara. Inilah yang bikin masalah kabut asap selalu jadi isu diplomatik yang panas di ASEAN setiap tahunnya.
Agustus hingga September 2026: Menandai Kalender Puncak Bahaya
Kalau kamu punya rencana liburan atau acara outdoor di bulan-bulan tersebut, mending dipikir-pikir lagi atau siapin rencana cadangan. SIIA menandai Agustus sampai September 2026 sebagai peak danger period. Kenapa bulan itu? Karena di situlah akumulasi dari kekeringan berbulan-bulan mencapai puncaknya.
Tanah sudah benar-benar kehilangan air, embung-embung air buat pemadaman mungkin sudah mulai surut, dan angin biasanya berhembus cukup kencang. Ini adalah kombinasi sempurna untuk bencana. Belajar dari kasus di Chiang Mai, Thailand, pada April 2026 lalu, kualitas udara di sana sempat menyentuh level yang sangat berbahaya sampai-sampai jarak pandang cuma beberapa meter saja. Kita tentu nggak mau hal itu terulang di Jakarta, Palembang, atau Pontianak.
Tabel Perbandingan: Risiko Kabut Asap 2023 vs Prediksi 2026
Untuk memberi gambaran seberapa serius ancaman tahun ini, mari kita lihat perbandingannya dengan tahun 2023 yang juga sempat bikin kita was-was.
| Variabel | Kondisi Tahun 2023 | Prediksi Tahun 2026 |
|---|---|---|
| Status Risiko SIIA | Moderate to High | High (Level Tertinggi) |
| Kekuatan El Nino | Moderate | Super El Nino (Ekstrem) |
| Durasi Kekeringan | 3-4 Bulan | Diprediksi lebih dari 5 Bulan |
| Wilayah Terdampak | Sumatra & Kalimantan | Hampir seluruh ASEAN bagian Selatan |
| Kesiapan Mitigasi | Normal | Harus Ekstra Masif |
Dari tabel di atas, kelihatan banget kalau tahun 2026 ini bukan waktu yang tepat untuk santai-santai. Pemerintah daerah dan pusat harus sudah mulai melakukan modifikasi cuaca (hujan buatan) jauh-jauh hari sebelum tanah benar-benar kering.
Dampak Nyata yang Bakal Kita Rasakan Kalau Gagal Mitigasi
Kabut asap itu bukan cuma soal pemandangan yang jadi jelek atau foto Instagram yang jadi nggak estetik karena langitnya abu-abu. Dampaknya jauh lebih dalam dan merusak:
- Kesehatan Paru-Paru: Partikel PM2.5 dalam asap itu sangat kecil, bisa masuk ke aliran darah. ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) bakal melonjak, terutama buat anak-anak dan lansia.
- Ekonomi Terhenti: Kalau bandara ditutup karena jarak pandang terbatas, logistik bakal macet. Belum lagi biaya kesehatan yang harus dikeluarkan masyarakat.
- Pendidikan: Anak sekolah terpaksa belajar dari rumah lagi (PJJ) karena udara di luar sekolah nggak sehat. Capek kan kalau harus sekolah online lagi?
- Kerusakan Ekosistem: Satwa liar kehilangan habitat. Bayangkan nasib orangutan yang harus lari dari hutan yang terbakar.
“Kenaikan status kewaspadaan ke tingkat tertinggi ini merupakan alarm bagi kita semua. Koordinasi lintas negara bukan lagi pilihan, tapi keharusan untuk mencegah krisis kemanusiaan akibat polusi udara.” — Analisis Laporan SIIA.
Langkah Nyata: Apa yang Bisa Kamu Lakukan Sekarang?
Kita mungkin nggak bisa menghentikan Super El Nino karena itu fenomena alam, tapi kita bisa meminimalkan dampaknya. Jangan cuma nunggu pemerintah bertindak, kamu juga punya peran penting.
Pertama, berhenti melakukan pembakaran apa pun di lahan terbuka. Sekecil apa pun apinya, di tengah cuaca ekstrem, itu bisa jadi bencana. Kedua, mulai stok masker medis minimal tipe N95. Masker kain biasa nggak akan cukup buat menyaring partikel halus dari asap kebakaran hutan.
Ketiga, kalau kamu punya budget lebih, investasi di air purifier dengan filter HEPA untuk di dalam rumah adalah ide cerdas. Ini bakal jadi penyelamat saat udara di luar sudah nggak layak hirup. Keempat, pantau terus aplikasi kualitas udara secara real-time. Jangan memaksakan olahraga outdoor kalau angka AQI (Air Quality Index) sudah masuk zona kuning atau merah.
Intinya, Super El Nino 2026 ini adalah ujian bagi kesiapsiagaan kita. Kita sudah sering melewati krisis asap, harusnya kita sudah belajar banyak. Jangan sampai kita baru sibuk cari masker saat napas sudah terasa sesak. Stay safe, tetap terhidrasi, dan mari kita jaga lingkungan kita agar tetap basah dan hijau selama mungkin.