Kenapa Pocong dan Kuntilanak Bikin Jirayut Merinding? Ini Cerita Horor Sang Bintang Thailand

Jirayut blak-blakan soal hantu Indonesia yang paling ia takuti. Simak alasan unik kenapa Pocong dan Kuntilanak bikin dia bergidik dibanding hantu Thailand.

Written by: Adi Nugroho

Published on: 26 June, 2026

Pernahkah kamu merasa bulu kuduk berdiri cuma gara-gara mendengar suara tawa di kejauhan saat malam hari, atau sekadar melihat bayangan putih di pojok mata? Ternyata, perasaan merinding itu tidak cuma milik kita yang memang penakut dari lahir. Sosok sekelas Jirayut, artis serba bisa asal Thailand yang sudah lama berkarier di Indonesia, ternyata punya ketakutan yang sangat spesifik terhadap ‘penghuni’ dunia gaib di tanah air. Padahal, kita tahu sendiri kalau Thailand adalah salah satu ‘gudangnya’ film horor paling menyeramkan di Asia Tenggara. Tapi bagi Jirayut, hantu Indonesia punya level kengerian yang berbeda dan sulit dikalahkan oleh hantu-hantu dari negara asalnya.

Pocong: Ketakutan Terbesar yang Terasa Terlalu Dekat dengan Nyata

Bagi Jirayut, Pocong bukan sekadar hantu yang muncul di film-film layar lebar. Ada alasan psikologis dan religius yang membuat sosok ini menempati urutan pertama dalam daftar hal paling menakutkan baginya. Sebagai seorang Muslim, Jirayut melihat Pocong sebagai representasi yang sangat nyata dari kematian. Di Indonesia dan dalam tradisi Islam, kain kafan adalah pakaian terakhir bagi setiap jenazah sebelum masuk ke liang lahat. Kedekatan inilah yang membuat bayangan tentang sosok terbungkus kain putih itu jadi terasa sangat mengintimidasi.

Bayangkan saja, sesuatu yang biasa kita lihat dalam prosesi pemakaman yang khidmat, tiba-tiba muncul dalam bentuk yang ‘hidup’ atau menghantui. Jirayut mengaku bahwa tampilan Pocong yang dibungkus kain kafan adalah faktor utama yang membuatnya bergidik. Di Thailand, tradisi pemakaman mayoritas dilakukan dengan cara kremasi, sehingga sosok mayat yang dibungkus kain kafan dan berjalan atau melompat-lompat tidak ditemukan dalam khazanah horor lokal di sana. Perbedaan budaya ini membuat Pocong menjadi sebuah ‘kejutan budaya’ yang menyeramkan bagi Jirayut saat pertama kali menetap di Indonesia.

Kenapa Pocong Tidak Ada di Thailand?

Mungkin kamu bertanya-tanya, kalau di Indonesia ada Pocong, lalu di Thailand ada apa? Jirayut sempat menyebutkan bahwa di Negeri Gajah Putih, ada sosok yang secara visual sedikit mirip, namun punya latar belakang cerita yang berbeda. Nama hantunya adalah Phi Bung Khon. Secara harfiah, Jirayut menyebutnya sebagai ‘hantu bungkus’.

  • Phi Bung Khon: Merupakan sosok yang juga digambarkan terbungkus, namun tidak memiliki keterikatan kuat dengan ritual pemakaman harian seperti Pocong di Indonesia.
  • Visualisasi: Meski sama-sama ‘terbungkus’, aura yang dipancarkan berbeda karena konteks religius yang melatarbelakanginya.
  • Reaksi Lokal: Masyarakat Thailand mungkin takut pada Phi Bung Khon, tapi bagi Jirayut, kengeriannya tetap tidak bisa menandingi Pocong yang ia temui ceritanya di sini.

Teror Suara Kuntilanak yang Mengintimidasi Mental

Kalau Pocong menang di sisi visual dan kedekatan emosional dengan kematian, Kuntilanak punya cara lain untuk meneror Jirayut. Menariknya, Jirayut tidak terlalu mempermasalahkan wujud Kuntilanak yang berambut panjang atau berbaju putih. Baginya, itu adalah gaya standar hantu perempuan di mana pun, termasuk di Thailand yang punya sosok legendaris bernama Mae Nak. Namun, ada satu hal dari Kuntilanak Indonesia yang tidak dimiliki hantu lain: suaranya.

Suara tawa Kuntilanak yang melengking, meliuk-liuk, dan terdengar seolah sedang mengejek, adalah hal yang paling bikin Jirayut stres. Dalam industri film horor Indonesia, sound engineering untuk suara Kuntilanak memang dibuat sedemikian rupa agar menembus gendang telinga dan langsung memberikan efek fight or flight pada penonton. Jirayut merasa suara tawa itu sangat mengintimidasi, seolah-olah sang hantu sedang berada tepat di belakang leher kita, siap untuk melakukan hal yang tidak-tidak.

“Bentuknya pakai rambut panjang, tapi ketawanya kali ya yang bikin kita takut,” ungkap Jirayut dengan gaya santainya yang khas, meski tersirat rasa ngeri yang jujur.

Perbandingan Hantu Indonesia vs Thailand dalam Pandangan Jirayut

Untuk memudahkanmu memahami kenapa Jirayut merasa hantu Indonesia itu ‘spesial’ seramnya, mari kita lihat perbandingan sederhana antara apa yang biasa dia temui di Thailand dan apa yang dia temukan di Indonesia melalui tabel berikut:

KategoriHantu Indonesia (Pocong/Kunti)Hantu Thailand (Phi Bung Khon/Mae Nak)
Faktor VisualSangat terikat dengan kain kafan (Pocong).Lebih ke arah pucat, berdarah, atau tubuh yang tidak utuh.
Faktor AudioTawa melengking yang variatif dan mengintimidasi.Biasanya lebih ke suara tangisan atau kesunyian yang mencekam.
Latar BelakangSangat kental dengan ritual agama tertentu.Lebih banyak dipengaruhi oleh mitos rakyat dan karma.
Tingkat TerorTerasa sangat dekat karena ada di sekitar lingkungan rumah.Seringkali terikat pada tempat spesifik (sungai, pohon, kuil).

Filosofi “Masing-Masing Saja” ala Jirayut

Meski sering bercerita soal ketakutannya, satu hal yang patut dicontoh dari Jirayut adalah kedewasaannya dalam menyikapi hal gaib. Dia bukan tipe orang yang akan lari terbirit-birit sambil teriak histeris atau malah jadi paranoid setiap saat. Jirayut punya prinsip hidup berdampingan namun tetap menjaga jarak. Baginya, dunia manusia dan dunia hantu itu berbeda, jadi sebaiknya tidak perlu saling mengganggu.

Prinsip “masing-masing saja” ini sebenarnya sangat sehat untuk kesehatan mental kita. Terlalu takut pada hantu malah bisa membuat kita tidak fokus menjalani aktivitas sehari-hari. Jirayut memilih untuk menghindar jika merasa ada suasana yang tidak enak, bukan karena lemah, tapi karena dia menghormati keberadaan makhluk lain tanpa harus mencari tahu lebih dalam. Pendekatan ini membuatnya tetap bisa tampil ceria di depan kamera, meski dia tahu bahwa di luar sana, cerita-cerita tentang Pocong dan Kuntilanak tetap mengintai.

Menghadapi Ketakutan Lewat Layar Lebar: Film Cek Khodam

Seolah ingin menantang rasa takutnya sendiri, Jirayut justru mengambil langkah berani dengan terlibat dalam proyek film horor komedi berjudul Cek Khodam. Film ini menjadi pembuktian bahwa Jirayut bisa mengolah rasa takutnya menjadi sebuah karya seni yang menghibur. Di film ini, dia beradu akting dengan komedian seperti Saputra Kori dan Benidictus Siregar, yang pastinya akan memberikan bumbu humor di tengah suasana mencekam.

Proyek yang disutradarai oleh JeroPoint di bawah naungan Dee Company ini dijadwalkan tayang pada 16 Juli 2026. Menariknya, dalam proses produksinya, Jirayut bahkan melakukan improvisasi dengan memasukkan mantra-mantra bahasa Thailand yang menambah kesan autentik pada karakternya. Ini menunjukkan bahwa meskipun dia takut pada hantu lokal Indonesia, dia tetap bangga membawa identitas asalnya untuk memperkaya khazanah perfilman horor di tempatnya berkarier sekarang.

Langkah Bijak Saat Kamu Merasa Takut

Belajar dari cerita Jirayut, rasa takut itu manusiawi, apalagi kalau berhubungan dengan hal-hal yang tidak bisa kita lihat secara kasat mata. Namun, jangan sampai rasa takut itu menguasai logikamu. Berikut adalah beberapa tips yang bisa kamu terapkan saat mulai merasa paranoid dengan hantu-hantu seperti yang ditakuti Jirayut:

  1. Atur Pernapasan: Saat takut, detak jantung akan meningkat. Cobalah tarik napas dalam-dalam untuk menenangkan sarafmu.
  2. Alihkan Perhatian: Jirayut sering bercanda untuk mencairkan suasana. Kamu bisa mencoba mendengarkan musik yang ceria atau menonton video lucu.
  3. Pahami Konteks Budaya: Kadang kita takut hanya karena kita tidak paham. Seperti Jirayut yang takut Pocong karena alasan kain kafan, pahami bahwa itu adalah bagian dari siklus hidup yang normal.
  4. Jangan Menantang: Ikuti prinsip Jirayut untuk saling menghormati. Tidak perlu mencari-cari masalah dengan mendatangi tempat angker hanya untuk pembuktian diri yang tidak perlu.

Jadi, apakah kamu punya ketakutan yang sama dengan Jirayut? Atau mungkin kamu punya ‘versi’ hantu sendiri yang lebih menyeramkan dari Pocong dan Kuntilanak? Yang jelas, cerita Jirayut ini mengingatkan kita bahwa di mana pun kita berada, menghargai budaya dan kepercayaan lokal—termasuk urusan hantunya—adalah kunci untuk tetap tenang dan bisa berkarya dengan maksimal.

Leave a Comment